Skip to main content
macam macam penyakit pada ayam

Macam Macam Penyakit Pada Ayam, Cara Pencegahan dan Pengobatannya

Macam Macam Penyakit Pada Ayam – Hewan peliharaan jenis unggas adalah ternak yang paling banyak dibudidayakan manusia, dan unggas yang paling populer adalah ayam, itik, angsa, burung, dan merpati/burung dara.  Unggas merupakan hewan ternak yang banyak diambil manfaatnya oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Unggas dibudidayakan oleh hampir setiap rumah tangga, terutama masyarakat yang bermukim di pedesaan. Karena itu populasi ternak unggas paling banyak jika dibandingkan dengan ternak lainnya. Seiring dengan semakin bertambahnya populasi unggas, maka penyakit yang menyertainya juga semakin banyak dan kompleks. Penyakit-penyakit unggas baik penyakit ringan maupun penyakit berat yang bisa menular kepada manusia merupakan kendala terberat dalam usaha budidaya ternak unggas. Serangan penyakit pada ternak unggas merupakan penyebab utama gagalnya suatu usaha budidaya. Selain penyakit-penyakit menular yang mematikan, penyakit-penyakit yang tidak mematikan pun perlu mendapatkan perhatian, mengingat penyakit-penyakit tersebut juga menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Pengamanan terhadap penyakit harus mendapatkan prioritas dan perhatian khusus, dimana pengendalian tersebut terdiri dari usaha pencegahan, pengobatan dan pembasmian.

Macam Macam Penyakit Pada Ayam ( Unggas )

Banyak sekali jenis-jenis penyakit yang sering ditemukan pada ternak unggas. Penyakit pada unggas disebabkan oleh beberapa jenis nikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur dan parasit. Gejala dan akibat yang ditimbulkan oleh serangan mikroorganisme tersebut berbeda-beda, baik penyakit ringan, penyakit menular maupun penyakit yang mematikan. Beberapa penyakit menular yang telah ditemukan pada unggas lokal di laboratorium diagnostik adalah Newcastle Disease (Tetelo), Flu BurungMarek, Gumboro, Pox, Infectious Coryza (Snot), Pullorum, Colibacillosis, Cholera unggas, Anthrax, Aspergillosis, Candidiosis, Coccidiosis, Histomoniasis, Cryptosporidiosis, Trichomoniasis, infestasi ektoparasit dan cacing. Berdasarkan penyebabnya, penyakit pada unggas dibedakan menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut ;

–    Penyakit Viral : adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh virus
–    Penyakit Bakteri : adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh bakter
–    Penyakit Mikal : adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh jamur
–    Penyakit Parasit : adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh organisme parasit

A. 15 Jenis Penyakit Viral (Virus) pada Unggas, Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Cara Pengobatannya

1. Penyakit Avian Encephalomyelitis (AE)

Penyebab : Penyakit Avian Encephalomyelitis disebabkan oleh virus RNA dari family Picornaviridae. Penyakit AE umumnya menyerang anak ayam umur 1-4 minggu, sedang pada ayam petelur hanya mengakibatkan penurunan produksi telur antara 5-20%, yang mempengaruhi daya tetas telur yang diproduksinya. Bila diingat bahwa Penyakit AE ini ditularkan melalui telur maka “Breeder” yang paling dirugikan akibat serangan penyakit ini.

Gejala klinis ; Pada anak ayam umumnya umur 1-2 minggu ditemukan gejala antara lain ayam awalnya tampak sayu, diikuti ataksia karena adanya inkoordinasi dari otot-otot kaki, sehingga ayam dapat jatuh ke samping dengan kedua kaki terjulur ke satu sisi, tremor pada kepala dan leher terutama bila dipacu, keadaan akan berlanjut dengan kelumpuhan dan diakhiri dengan kematian. Pada ayam petelur gejala yang terlihat hanyalah penurunan produksi telur antara 5-10% dan tidak diikuti gejala gangguan syaraf. Pada ayam pembibitan ditemukan adanya daya tetas telur yang menurun dan anak ayam yang ditetaskan akan banyak tertular penyakit AE.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi. Cara pengobatan belum ada. Pada ayam yang masih hidup dapat diberikan ransum pakan yang baik disertai vitamin dan elektrolit.

2. Penyakit Avian Influenza (AI) / Flu Burung

Penyebab : Penyakit Avian influenza (AI) pada unggas yang disebabkan oleh virus influenza type A subtipe H5 dan H7. Semua unggas dapat terserang virus influenza A, tetapi wabah AI sering menyerang ayam dan kalkun. Penyakit ini bersifat zoonosis dan angka kematian sangat tinggi karena dapat mencapai 100%. Virus ss-RNA yang tergolong family Orthomyxoviridae, dengan diameter 80-120 nm dan panjang 200-300 nm.

Gejala Klinis : Gejala klinis yang terlihat pada ayam penderita HPAI antara lain adalah, jengger, pial, kelopak mata, telapak kaki dan perut yang tidak ditumbuhi bulu terlihat berwarna biru keunguan. Adanya perdarahan pada kaki berupa bintikbintik merah (ptekhie) atau biasa disebut kerokan kaki. Keluarnya cairan dari mata dan hidung, pembengkakan pada muka dan kepala, diare, batuk, bersin dan ngorok. Nafsu makan menurun, penurunan produksi telur, kerabang telur lembek. Adanya gangguan syaraf, tortikolis, lumpuh dan gemetaran. Kematian terjadi dengan cepat. Sementara itu pada LPAI, kadang gejala klinis tidak terlihat dengan jelas.

Pencegahan dan Pengobatan : Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan Avian Influenza. Usaha yang dapat dilakukan adalah membuat kondisi badan ayam cepat membaik dan merangsang nafsu makannya dengan memberikan tambahan vitamin dan mineral, serta mencegah infeksi sekunder dengan pemberian antibiotik. Dapat pula diberikan pemanasan tambahan pada kandang.

3. Penyakit Cacar Unggas

Penyebab : Penyakit cacar unggas disebabkan oleh DNA Pox virus ukuran besar. Terdapat 4 strain
Pox virus unggas yang mirip satu sama lain dan secara alami menginfeksi spesies unggas sesuai dengan namanya, yaitu : Virus Fowl pox, Virus Turkey pox, Virus Pigeon pox dan Virus Canary pox.

Gejala Klinis : Cacar dapat terjadi dalam salah satu bentuk yaitu bentuk kulit atau bentuk difterik, ataupun kedua bentuk tersebut. Gejala klinis bervariasi tergantung pada : kepekaan inang/hospes, virulensi virus, distribusi lesi dan faktor komplikasi yang lain. Gejala umum yang timbul adanya pertumbuhan yang lambat pada unggas muda, penurunan telur pada periode bertelur,adanya kesulitan bernapas dan makan.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian vaksin. Seperti penyakit virus yang lain, untuk penyakit cacar tidak ada obat yang spesifik dan efektif.

4. Penyakit Chicken Anemia Syndrome

Penyebab : Penyakit Chicken anemia syndrome disebabkan oleh Chicken Anemia Agent(CAA), termasuk grup Circovirus. Virus berukuran 18-26,5 nm, tergolong ss-DNA, tidak beramplop dan berbentuk ikosahedral. CAA merupakan penyakit viral yang bersifat akut pada ayam muda. Penyakit ditandai adanya anemia aplastika dan atrofi organ limfoid yang mengakibatkasn terjadinya imunosupresif.

Gejala Klinis : Pada kasus akut gejala klinis muncul pada ayam umur 7-14 hari, ditandai dengan hambatan pertumbuhan dan anoreksia. Pada bagian muka, pial dan jengger tampak pucat, bulu ayam berdiri disertai dengan terjadinya peningkatan mortalitas ayam sekitar 5-16%, tetapi pernah mencapai 60%.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dilakukan dengan cara vaksinasi. Pengobatan dengan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder dapat membantu menurunkan kasus.

5. Penyakit Egg Drop Syndrome 1976 (EDS’76)

Penyebab : EDS’76 disebabkan oleh Adenovirus dari famili Adenoviridae. Virus EDS’76 dapat mengaglutinasi eritrosit ayam, itik dan kalkun. Virus EDS’76 diduga berasal dari adenovirus itik. Musim hujan dan kering tidak mempengaruhi secara langsung penyakit EDS’76, tetapi dapat memperberat kasus penyakit akibat faktor stres.

Gejala Klinis : Gejala klinis EDS’76 biasanya tampak pada ayam berumur 25-35 minggu dengan gejala khas berupa penurunan produksi telur dengan kualitas jelek. Kualitas telur yang jelek dapat berupa hilang atau berkurangnya warna kulit telur, kulit telur lunak, tipis atau bahkan tanpa kulit dan ukuran telur menjadi sangat kecil.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan terhadap EDS’76 dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi pada ayam menjelang produksi. Tidak ada obat yang efektif dalam menurunkan keparahan ataupun mengurangi gejala penyakit.

6. Penyakit Helicopter Disease

Penyebab : Penyebab utama penyakit ini adalah Reovirus, tetapi beberapa agen lain dapat terlibat, seperti rotavirus, parvovirus, enterovirus-like viruses dan toga virus-like agent. Helicopter Disease merupakan penyakit penyebab gangguan pertumbuhan terutama pada ayam pedaging umur 1–6 minggu.

Gejala Klinis : Anak ayam yang terserang penyakit ini menunjukkan penurunan laju pertumbuhan yang nyata pada umur pemanasan/brooding yaitu 5-7 hari. Kelainan bulu tampak pada ayam yang sakit, termasuk patahnya tungkai bulu sayap primer dan bertahannya warna kuning pada bulu di bagian bawah kepala sampai umur 30 hari.

Pencegahan dan Pengobatan : Untuk mencegah terjadinya malabsorbsi, formulasi pakan dapat dievaluasi untuk meyakinkan kecukupan zat-zat gizi. Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk pengendalian penyakit ini.

7. Penyakit Inclusion Body Hepatitis (IBH)

Penyebab : Penyakit Inclusion Body Hepatitis (IBH) disebabkan oleh Adenovirus, familia Adenoviridae. IBH disebabkan oleh sedikitnya 3 serotipe dari DNA Adenovirus dan diperkirakan minimum ada 19 serotipe Avian Adenovirus yang pernah dideteksi dari ayam, kalkun, angsa dan entok. Inclusion Body Hepatitis (IBH) merupakan penyakit akut, menyerang ayam muda umur 4-8 minggu.

Gejala Klinis : Hampir semua infeksi Adenovirus tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Jengger kelihatan pucat, pial dan kulit muka juga pucat, depresi, lemah dan kemungkinan diikuti dengan penyakit lainnya. Gangguan pernafasan sering terjadi pada anak ayam dan pada ayam dewasa kadang terjadi penurunan produksi telur.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan infeksi paling baik dilakukan dengan praktek manajemen pemeliharaan yang optimal. Seperti pada penyakit yang disebabkan virus lainnya, belum ada pengobatan untuk penyakit ini.

8. Penyakit Infectious Bronchitis (IB)

Penyebab : Penyakit Infectious Bronchitis (IB) adalah penyakit pernapasan akut dan sangat menular pada ayam. IB disebabkan oleh virus dari genus coronavirus dari family Coronaviridae. Virus IB termasuk virus ss-RNA, berbentuk spherik atau pleomorfik dengan diameter 90-200 nm. Spesies rentan terhadap penyakit IB hanyalah ayam, baik broiler ataupun layer, tetapi pernah dilaporkan kejadian pada itik dan burung liar.

Gejala Klinis : Gejala klinis pada anak ayam ditandai dengan batuk, bersin, ngorok, keluar leleran hidung dan eksudat berbuih di mata. Anak ayam yang terkena tampak tertekan dan akan cenderung meringkuk di dekat sumber panas. Gejala klinis muncul dalam waktu 36 sampai 48 jam.

Pencegahan dan Pengobatan : Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan infectious bronchitis. Usaha yang dapat dilakukan adalah membuat kondisi badan ayam cepat membaik dan merangsang nafsu makannya dengan memberikan tambahan vitamin dan mineral

9. Penyakit Infectious Bursal Disease (IBD)

Penyebab : IBD merupakan penyakit menular akut pada ayam berumur muda, disebabkan oleh Virus IBD tergolong virus RNA dari genus avibirnavirus dan family birnaviridae. Kerugian ekonomi yang diakibatkan cukup besar karena menyerang anak ayam berumur muda (kurang dari tiga minggu) dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi.

Gejala Klinis : Ayam yang terserang ditandai dengan gejala depresi, nafsu makan menurun, lemah, gemetar, sesak nafas, bulu berdiri dan kotor terutama bulu di daerah perut dan dubur, selanjutnya diikuti dengan diare, feses berwarna putih kapur dan kematian yang terjadi akibat dehidrasi.

Pencegahan dan Pengobatan : Cara pencegahan yang paling efektif adalah melakukan vaksinasi. Tidak ada pengobatan yang efektif. Namun perlakuan terhadap ternak ayam yang sakit dapat diberikan  pengobatan, misalnya dengan tetes 5% dalam air minum selama 3 hari, gula rnerah 2% dicampur dengan NaHC03 0,2% dalam air minum selama  2 hari.

10. Penyakit Infectious Laryngo Tracheitis (ILT)

Penyebab : Penyebab ILT adalah virus herpes, berbentuk kuboid beramplop, peka terhadap ether, dan memiliki inti DNA. Virus ILT diklasifikasikan sebagai anggota familiAlphaherpesviridae dengan nomenklatur virologi Gallid herpesvirus I. Infectious laryngo tracheitis (ILT) merupakan penyakit akut pada ayam yang ditandai dengan gejala khas pada saluran pernafasan, kesulitan bernafas dan keluarnya eksudat berdarah.

Gejala Klinis : Gejala khas infeksi akut adalah adanya leleran hidung, suara mengorok yang diikuti dengan batuk dan tarik nafas. Tanda klinis dengan adanya kesulitan bernafas dan keluarnya cairan mukus berdarah adalah khas untuk bentuk penyakit ILT parah.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan daoat dilakukan dengan pemberian vaksin. Tidak ada obat yang efektif dalam menurunkan keparahan ataupun mengurangi gejala penyakit.

11. Penyakit Lymphoid Leukosis (LL)

Penyebab : Virus penyebab penyakit Lymphoid Leukosis adalah Leukovirus digolongkan ke dalam famili Retroviridae genus Oncorna C. secara morfologi  dan strukturnya menyerupai virus RNA yang bersifat onkogenik yang ditemukan selain pada unggas. Lymphoid leukosis(LL) merupakan penyakit neoplasma pada unggas yang bersifat menular.

Gejala Klinis :  Ayam-ayam yang terserang mempunyai masa inkubasi lama dengan gejala tidak menyolok, sulit dibedakan antara ayam yang baru tertular dari ayam yang tidak terpapar. Pada stadium lanjut, maka akan terlihat adanya pial yang kering dan gejala umum antara lain kelihatan pucat, jengger dan pial sianosis, nafsu makan menurun, menjadi kurus dan lemah, perut tampak membesar dan bila diraba (palpasi) terasa mengeras.

Pencegahan dan Pengobatan : Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk penyakit Lymphoid Leukosis (LL). Vaksin untuk LL sampai saat ini juga belum tersedia, oleh karena itu usaha pencegahan lebih difokuskan pada manajemen pemeliharaan yang baik dan benar.

12. Penyakit Marek’s Disease (MD)

Penyebab : Penyebab penyakit Marek’s adalah virus herpes-2 golongan B dari famili Herpesviridae. Virus berbentuk heksagonal, tidak beramplop dengan berukuran sekitar 85-100 nm sampai 150-170 nm. Penyakit Mareks adalah penyakit menular pada ayam yang ditandai oleh proliferasi dan infiltrasi sel limfosit pada syaraf, organ viseral, mata, kulit dan urat daging.

Gejala Klinis : Gejala klinis yang terlihat pada ayam penderita Marek’s adalah hilangnya keseimbangan tubuh diikuti kelumpuhan pada bentuk klasik (paralisis sebagian atau seluruh kaki dan sayap) dan bilateral. Jika terjadi kelumpuhan spastik (unilateral), maka salah satu kaki direntangkan ke depan dan satu kaki lainnya ke belakang.

Pencegahan dan Pengobatan : Penyakit Marek’s dapat dicegah dengan cara melakukan vaksinasi secara ketat dan teratur serta menerapkan manajemen pemeliharaan yang baik. Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk penyakit Marek’s.

13. Penyakit Newcastle Disease (ND)

Penyebab : Penyebab ND adalah virus yang tergolong Paramyxovirus, termasuk virus ss-RNA yang berukuran 150-250 milimikron, dengan bentuk bervariasi tetapi umumnya berbentuk spherik. Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit menular akut yang menyerang ayam dan jenis unggas lainnya dengan gejala klinis berupa gangguan pernafasan, pencernaan dan syaraf disertai mortalitas yang sangat tinggi.

Gejala Klinis : Tergantung pada virulensi virus yang menulari, gejala klinis yang ditimbulkan juga bermacam-macam, mulai dari asymptomatis, gejala pernafasan ringan, pernafasan disertai dengan gangguan syaraf, atau kombinasi gangguan respirasi, syaraf dan digesti.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan vaksinasi secara teratur. Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan ND. Usaha yang dapat dilakukan adalah membuat kondisi badan ayam cepat membaik dan merangsang nafsu makannya dengan memberikan tambahan vitamin dan mineral.

14. Penyakit Swollen Head Syndrome (SHS)

Penyebab : Penyebab penyakit SHS adalah virus ss-RNA dari genus pneumovirus yang merupakan famili dari ParamyxoviridaeSwollen Head Syndrome (SHS) merupakan penyakit viral yang sangat menular pada ayam yang ditandai dengan kebengkakan pada daerah kepala, menimbulkan gejala pernafasan dan turunnya produksi telur.

Gejala Klinis : Gejala klinis SHS adalah pembengkakan pada sinus periorbitalis dan sinus infraorbitalis, selain itu terlihat pula adanya torticolis, opisthotonus, inkoordinasi, depresi dan adanya gangguan pernafasan. Pada ayam petelur terjadi penurunan produksi telur.

Pencegahan dan Pengobatan : Manajemen peternakan yang baik penting dilakukan untuk mencegah kejadian penyakit SHS. Pemberian antibiotik memperlihatkan keberhasilan yang bervariasi. Berdasarkan laporan, keberhasilan  pemberian antibiotik pada kasus SHS berat, ternyata hanya mampu mencegah infeksi sekunder oleh bakteri.

15. Penyakit Viral Arthritis

Penyebab : Penyebab VA adalah Orthoreovirus yang tergolong famili Reoviridae. Reovirus penyebab VA termasuk virus ds-RNA, tidak beramplop, berbentuk simetris ikosahedral dan berukuran sekitar 75 nm. Viral Arthritis (VA) merupakan penyakit viral pada ayam dengan gejala khas berupa lesi pada membran synovial, tendo dan pembungkus tendo.

Gejala Klinis : Gejala klinis yang umum terjadi adalah kepincangan, ayam tampak malas bergerak, pertumbuhan terhambat, Ada 2 (dua) bentuk gejala klinis, yaitu bentuk tenosynovitis atau arthritis dan sistemik.

Pencegahan dan Pengobatan : Tindakan pencegahan yang paling efektif adalah dengan vaksinasi. Sampai saat ini tidak ada obat yang efektif untuk pengobatan terhadap VA.

B. 8 Jenis Penyakit Bakteri pada Unggas, Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Cara Pengobatannya

1. Penyakit Chlamydiosis

Penyebab : Chlamydiosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri obligat intraseluler Chlamydophila. Mikroorganisme ini memiliki siklus hidup yang unik dan menyebabkan peradangan dari ringan sampai berat pada hewan dan manusia. Agen penyebab chlamydiosis digolongkan ke dalam ordo ChlamydialesChlamydiales ada 2 genus yaitu chlamydia dan chlamydophilaPsittacosis atau Ornithosis adalah penyakit menular yang disebabkan Chlamydophila psittaci.

Gejala Klinis : Gejala klinis yang ditemukan adalah demam dan anoreksia. Setelah dua minggu, bakteri dapat ditemukan dalam air ludah. Organisme ini juga menyebabkan bintik peradangan pada paru. Infeksi dapat menyebabkan diare, gangguan pernafasan, konjungtivitis dan nasal discharge (sekresi hidung), enteritis, hepatitis dan splenitis.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan tindakan biosekuriti dengan peningkatan sanitasi dan kebersihan kandang. Pengobatan psittacosis dapat menggunakan khlortetrasiklin dengan dosis 2 mg/hari selama 21 hari. Pada kalkun dosis 40 mg/L air minum selama3 minggu.

2. Penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD)

Penyebab : Chronic Respiratory Disease (CRD) adalah penyakit menular menahun pada ayam yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum. Agen penyebab CRD adalah Mycoplasma gallisepticum dari famili Mycoplasmataceae dan Ordo Mycoplasmatales. Mycoplasma gallisepticum berukuran 0,25-0,50 mikron berbentuk pleomorfik, biasanya kokoid dan tidak mempunyai dinding sel sejati.

Gejala Klinis : Masa tunas CRD berkisar antara 4-21 hari. Bila CRD menyerang, biasanya seluruh kelompok ayam terkena meskipun derajat keparahannya berbeda. Tanpa komplikasi kelompok ayam yang terserang CRD, tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas.

Pencegahan dan Pengobatan : Obat-obatan yang dapat dipergunakan untuk penyakit ini diantaranya ialah tylosin, spiramycin, oxytetracyclin, streptomycin, spektinomisin, linkomisin, dan beberapa golongan kuinolon seperti enrofloksasin dan norflosasin. Pencegahan dilakukan dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang baik dan benar.

3. Penyakit Colibacillosis Pada Unggas

Penyebab : Colibacillosis adalah penyakit pada hewan, terutama menyerang hewan muda, disebabkan oleh bakteri Escherichia coli (E.coli). Pada unggas, infeksi E.coli dapat menyebabkan penyakit seperti omphalitis, air sacculitis, peritonitis dan salphingitis. Colisepticemia dapat menyerang ayam pada berbagai tingkatan umur, tetapi biasanya menyerang ayam petelur berumur 3-5 minggu.

Gejala Klinis : Gejala klinis tidak spesifik dan sangat tergantung dari umur ayam yang terserang, lamanya infeksi berlangsung, dan organ yang terserang. Pada ayam petelur muda (4-8 minggu) biasanya ayam-ayam ini mati secara akut setelah timbul gejala yang singkat yaitu anoreksia dan lesu.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dapat dimulai dari seleksi secara ketat ayam yang berkualitas pada awal pemeliharaan dan mencegah pencemaran bakteri pada air minum ataupun pakan. Pengobatan Colibacillosis dengan pemberian antibiotik. Beberapa serotipe E.coli seringkali resisten  terhadap satu atau lebih antibiotika. Untuk pengobatan yang efektif perlu dilakukan uji sensitivitas bakteri, karena antibiotik yang efektif pada satu kasus belum tentu dapat efektif pada kasus yang lainnya.

4. Penyakit Coryza

Penyebab : Penyakit Coryza disebabkan oleh bakteri, berbentuk batang yang pleomorfik tidak bergerak, bersifat gram negatif dan disebut Hemophilus gallinarum. Coryza adalah penyakit menular pada unggas yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit biasanya bersifat akut sampai subakut dan dalam progresnya biasanya menjadi kronis.

Gejala Klinis : Dari hidung keluar eksudat yang mula-mula berwarna jernih dan encer tetapi lambat laun berubah menjadi kuning kental dan bernanah dengan bau khas. Sekitar lubang hidung terdapat kerak eksudat yang berwarna kuning. Sinus inftraorbital membengkak sangat besar, unilateral maupun birateral.

Pencegahan dan Pengobatan : Cara yang paling baik untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan melaksanakan sanitasi dan manajemen peternakan yang baik. Pengobatan pada suatu flok dengan sulfonamide atau antibiotik direkomendasikan. Berbagai macam sulfonamide seperti sulfadimethoxine, sulfaquinoxaline, sulfamethazine semuanya efektif, tapi sulfadimethoxine merupakan obat yang paling aman.

5. Penyakit Fowl Typhoid

Penyebab : Fowl typhoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica subspecies enterica serovars Gallinarum biovars Gallinarum yang terdistribusi di seluruh dunia. Agen penyebab fowl typhoid adalah Salmonella gallinarum, bersifat egg transmitted dan menimbulkan lesi yang sama dengan Salmonella pullorum, lebih banyak menyerang unggas yang sedang tumbuh dan dewasa.

Gejala Klinis : Gejala klinis dan lesi pada unggas muda sama dengan infeksi S.pullorum. Kondisi septisemia dapat terlihat, peningkatan angka mortalitas dan penurunan kualitas unggas yang dihasilkan dari telur terinfeksi. Unggas yang lebih tua menunjukkan gejala anemia, depresi, kesulitan bernapas, dan diare.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dapat dilakukan dengan meningkatkan biosekuriti. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan Amoxycillin, sulponamide, tetracylines, atau fluoroquinolones.

6. Penyakit Kolera Unggas

Penyebab : Kolera unggas adalah penyakit menular yang menyerang unggas peliharaan dan unggas liar dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi, disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida (P.multocida) dan tersebar diseluruh dunia. Di Indonesia kejadian klinis kolera unggas diperkirakan sudah lama terjadi, namun bakteri penyebab penyakit baru berhasil diisolasi oleh Sri Poernomo pada tahun 1972.

Gejala Klinis : Pada permulaan wabah terjadi angka mortalitas tinggi, terutama pada kalkun. Bentuk akut ditandai dengan konjungtivitis dan keluar kotoran dari mata. Daerah facial, balung dan pial membesar, serta terdapat gangguan pernapasan. Feses encer berwarna hijau kekuningan. Unggas mengalami kelumpuhan akibat peradangan pada sendi tarsus.

Pencegahan dan Pengobatan : Tindakan pencegahan dan pengendalian dapat dilakukan dengan jalan vaksinasi, sanitasi peternakan, dan adanya hewan sakit harus segera dipisahkan dan diobati. Pengobatan kolera unggas dapat menggunakan antimikroba ; Sulfaquinoxalin 0,05%Sulfametasin dan sodium sulfametasin 0,5-1,0%, Streptomycin 150.000 mg, Terramisin.

7. Penyakit Paratifoid

Penyebab : Infeksi paratifoid (paratifoid) merupakan suatu penyakit pada unggas yang disebabkan oleh kelompok bakteri Salmonella sp., yang tidak termasuk Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum. Penyakit ini dikenal juga dengan nama salmonelosis. Salmonellosis atau paratifoid disebabkan oleh Salmonella sp. Selain Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum yang merupakan suatu kelompok bakteri yang tidak mempunyai host yang spesifik.

Gejala Klinis : Infeksi pada ayam dewasa umumnya tidak menunjukkan gejala klinis tertentu. Infeksi akut pada ayam dara atau ayam dewasa jarang terjadi pada kondisi alami. gejala klinis yang terlihat pada ayam yang terinfeksi dengan Salmonella typhimurium, meliputi diare yang disertai oleh depresi dan kelemahan umum, sayap menggantung dan bulu berdiri.

Pencegahan dan Pengobatan : Cara terbaik untuk menanggulangi Salmonelosis adalah mencegah masuknya kuman Salmonella sp. ke dalam suatu kelompok ayam dengan praktek manajemen pemeliharaan yang optimal. Obat-obatan yang dapat dipergunakan untuk ayam yang terserang salmonelosis adalah antibiotik ataupun antibakteri.

8. Penyakit Pullorum

Penyebab : Pullorum disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum, yaitu suatu bakteri bersifat gram negatif, tidak bergerak, berbentuk batang, fakultatif aerob dan tidak berspora, dan mampu bertahan di tanah hingga satu tahun. Penyakit Pullorum merupakan penyakit menular pada ayam yang menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, menyebabkan kematian yang sangat tinggi terutama pada anak ayam umur 1-10 hari.

Gejala Klinis : Gejala penyakit yang tersifat pada ayam ialah kelihatan mengantuk (mata menutup), jengger kebiruan, bergerombol pada suatu tempat dan nafsu makan berkurang. Pada umumnya memperlihatkan diare putih atau coklat kehijau-hijauan dan terdapat gumpalan seperti pasta di sekitar kloaka disertai kelemahan kaki, sayap menggantung kusam, lumpuh karena arthritis, dan nampak sesak nafas.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan diutamakan pada sanitasi dan tata laksana serta manajemen pemeliharaan yang baik. Pengobatan pullorum dapat dilakukan dengan penyuntikan antibiotik seperti cocillin, neo terramycin ke dada ayam.

D. 3 Jenis Penyakit Mikal (Penyakit Jamur) pada Unggas, Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Cara Pengobatannya

1. Penyakit Aspergillosis

Penyebab : Aspergillosis atau Brooder Pneumonia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh jamur atau cendawan dari genus Aspergillus, yang paling patogen adalah Aspergillus fumigatus, Aspergillus flavus dan Aspergillus niger. Penyakit ini menyerang manusia dan hewan. Pada unggas terutama menyerang alat pernapasan.

Gejala Klinis : Dalam bentuk akut, aspergillosis menyebabkan hewan tidak mau makan, kelihatan mengantuk, kadang membuka mulut karena kesulitan bernapas, bahkan mengalami kejang. Apabila cendawan menginfeksi otak, akan menimbulkan gejala kelumpuhan dan gangguan syaraf lainnya. Jika terjadi infeksi pada mata umumnya hanya menyerang salah satu matanya, hingga matanya tertutup oleh cairan kental berwarna kuning dan ayam tumbuh lambat.

Pencegahan dan Pengobatan : Belum ada vaksin yang efektif untuk pencegahan. Hewan penderita sebaiknya diisolasi. Pakan ternak dijaga jangan sampai terkontaminasi cendawan. Belum ada obat yang efektif dan ekonomis untuk aspergillosis pada unggas.

2. Penyakit Candidiasis

Penyebab : Candidiasis merupakan penyakit mikal yang disebabkan oleh Candida. Candida telah dikenal dan dipelajari sejak abad ke-18. Penyakit ini terutama disebabkan oleh hygiene yang tidak baik. Candida dapat hidup sebagai saprobe tanpa menyebabkan kelainan pada berbagai permukaan tubuh manusia dan hewan. Spesies Candida yang dikenal banyak menimbulkan penyakit baik pada manusia maupun hewan adalah Candida albicans.

Gejala Klinis : Gejala pada ayam terserang candidiasis tidak terlalu spesifik, namun akibat penyakit ini pertumbuhan ayam menjadi terhambat, bulu berdiri, atau ayam mengalami diare.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan candidiasis hanya bisa dilakukan dengan meningkat kan standar sanitasi, menghindari pemberian obat, antibiotik, dan coccidiostat, serta menghindari stimulan pertumbuhan berlebihan yang dapat mempengaruhi flora normal pada saluran pencernaan. Pengobatan dapat dilakukan menggunakan cooper sulfat dengan takaran 1 : 2000 (1 bagian cooper sulfat dan 2000 bagian air minum).

3. Penyakit Ringworm

Penyebab Ringworm adalah penyakit menular pada permukaan kulit yang disebabkah oleh cendawan. Cendawan penyebab penyakit ini termasuk dalam kelompok Dermatophyta. Terdapat 4 (empat) genus yaitu Trichophyton, Microsporum, Epidermophyton, dan Keratinomyces, yang menyebabkan penyakit badan hewan adalah Trichophyton dan Microsporum.

Gejala Klinis : Pada unggas gejala klinis berupa bercak kecil berwarna putih kotor pada jengger, dapat meluas ke bagian lain dari kepala terutama yang tidak berbulu. Selanjutnya pada bagian yang terluar dari bercak tersebut akan tertutup oleh lapisan cendawan berbentuk seperti kerak berbutir.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan ringworm dilakukan dengan menjaga kebersihan kulit dan kesehatan tubuh hewan. Ringworm jenis tertentu dapat sembuh dengan sendirinya. Pengobatan dapat dilakukan dengan 2 (dua)  cara, yaitu dengan olesan atau pengobatan per oral melalui mulut. Obat yang digunakan mengandung lemak, jodium sulfa atau asam salisilat.

E. 6 Jenis Penyakit Parasit pada Unggas, Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Cara Pengobatannya

1. Penyakit Ascariasis Pada Ayam

Penyebab : Ascariasis adalah penyakit cacing yang menyerang unggas dan disebabkan oleh Ascaridia galli. Sinonim spesies ini adalah A.lineata, A.perspicillum. Cacing ini terdapat di usus  dan duodenum hewan unggas. Pada ternak ayam sering menyerang baik tipe pedaging maupun tipe petelur, sedangkan pada ayam buras  kemungkinan tertular lebih besar karena sistem pemeliharaan yang bebas berkeliaran.

Gejala Klinis : Pada infeksi berat akan terjadi mencret berlendir, selaput lendir pucat, pertumbuhan terhambat, kekurusan, kelemahan umum, anemia, diare dan penurunan produksi telur.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dapat dilakukan dengen menerapkan manajemen pemeliharaan yang baik dan benar. Pengobatan terhadap Ascaridia galli yang paling sering dilakukan dengan pemberian piperazine. Anthelmentik ini sangat efektif, dapat diberikan melalui makanan atau minuman.

2. Penyakit Cacing Mata Pada Unggas

Penyebab : Penyebab penyakit cacing mata pada unggas adalah O.mansoni. Cacing yang dewasa bisa mencapai panjang 12-18 mm. Cacing ini senang tinggal di balik kelopak mata (membrane nyctitans) bangsa unggas. Cacing mata pada unggas adalah penyakit yang disebabkan oleh infestasi parasit cacing yang suka tinggal di mata inang khususnya di saccus conjunctiva.

Gejala Klinis : Unggas yang terinfeksi menunjukkan gejala conjunctivitis (radang pada conjunctiva), opthalmitis (radang pada mata), kerusakan kornea dan mengganggu daya pandang mata. Mata kotor karena banyak eksudat dan basah.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang dan sekitarnya. Untuk cacing yang yang ada di kelopak mata, diteteskan 1-2 tetes larutan cresol 5%, dibiarkan 2-3 menit, tidak lama kemudian cacing yang hidup di belakang kelopak mata akan mati. Selanjutnya mata dibersihkan dengan dengan aquades steril agar sisa larutan cresol hilang.

3. Penyakit Coccidiosis

Penyebab : Coccidiosis merupakan penyakit parasiter pada sistem pencernaan unggas akibat infeksi protozoa genus Emeria. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Coccidiosis menyebabkan pertumbuhan unggas yang tidak optimal akibat menurunnya efisiensi penyerapan nutrisi pakan. Pada kejadian yang kronis, penyakit ini dapat menyebabkan kematian yang cukup tinggi pada unggas.

Gejala Klinis : Unggas yang terinfeksi penyakit Coccidiosis menunjukkan gejala klinis berupa anoreksia, depresi, bulu berdiri, kepucatan pada pial dan jengger, kekurusan, dan kematian.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan Coccidiosis pada unggas dapat dilakukan dengan penerapan tindakan biosecurity dan pemberian vaksin secara teratur. Pengobatan Coccidiosis dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang bersifat coccidiostat atau coccidiocidal. Pemberian coccidiostat tidak mengeliminasi seluruh parasit dari dalam tubuh tetapi hanya menekan jumlah parasit yang ada di dalam tubuh.

4. Penyakit Gurem

Penyebab : Gurem (Ornithonyssus bursa) termasuk sub ordo Mesostigmata, sub kelas Ascari dan kelas Arachnida. Hama ini sangat kecil dan sulit diberantas. Gurem menghisap darah, hidup bergerombol, dan keluar pada malam hari. Gurem betina menghisap darah ayam sebanyak 0.077 mg atau jumlah yang dihisap adalah 1.8 kali berat tubuh gurem.

Gejala Klinis : Akibat dari serangan parasit ini antara lain ayam kurang tidur, gelisah, stres, lesu, kurang darah, dan terganggu saat mengeram, sehingga banyak telur tidak menetas. Gangguan gurem jika tidak mendapat penanganan dapat menyebabkan penurunan produksi telur, bahkan bisa berhenti sama sekali.

Pencegahan dan Pengobatan : Pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan manajemen pemeliharaan yang baik dan menjaga kebersihan kandang dan sekitarnya. Ayam yang terserang gurem dapat diobati dengan cara memandikannya dengan campuran air sabun dan belerang.

5. Penyakit Leucocytozoonosis

Penyebab : Leucocytozoonosis merupakan penyakit parasitik pada unggas yang disebabkan oleh protozoa dari genus LeucocytozoonLeucocytozoon sp. diklasifikasikan sebagai protozoa dari phylum apicomplexa, kelas sporozoa, ordo eucoccidiidae, famili plasmodiidae. Protozoa ini hidup sebagai parasit di dalam sel darah putih.

Gejala Klinis : Leucocytozoonosis akut menyebabkan unggas mengalami anemia, leukocytosis, tachypnea, anorexia, lesu, diare berwarna hijau, dan gangguan syaraf. Pada ayam layer, Leucocytozoonosis menyebabkan produksi telur menurun. Gejala klinis muncul setelah satu minggu infeksi.

Pencegahan dan Pengobatan : Untuk menghindari terjangkitnya Leucocytozoonosis, sebaiknya peternak memperhatikan adanya genangan atau sumber air di sekitar peternakan. Sumber air merupakan tempat bagi vektor untuk menetaskan telurnya. Pengobatan Leucocytozoonosis dilakukan dengan memberikan pyrimethamine ( dosis 1 ppm), sulfadimethoxine (dosis 10 ppm), Pemberian clopidol (dosis 125 ppm) diketahui efektif untuk pencegahan.

6. Penyakit Malaria (Plasmodiosis) Unggas

 Penyebab : Plasmodiosis atau Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari spesies Plasmodium sp. Penyakit tersebut dapat menyerang berbagai jenis hewan baik mamalia maupun unggas. Plasmodiosis merupakan arthropod born disease atau penyakit yang ditularkan oleh arthropoda. Plasmodium merupakan protozoa yang diklasifikasikan sebagai protozoa dari sub kelas Telosporidia, ordo Coccidiomorphida, sub ordo Haemosporidinae, dan genus Plasmodium.

Gejala Klinis : Gejala klinis yang muncul pada unggas yang terinfeksi berupa kelemahan, lesu, dyspnae, anemia, abdominal distension, occular hemorrhagi, dan kematian. Infeksi Plasmodium dalam sel darah merah menyebabkan pH darah turun sehingga pengikatan oksigen oleh hemoglobin menjadi turun.

Pencegahan dan Pengobatan : Salah satu cara pencegahan dan pengendalian Plasmodiosis pada peternakan adalah dengan mengendalikan nyamuk sebagai vektor pembawanya. Pengobatan terhadap plasmodiosis dapat dilakukan dengan pemberian chloroquine (dosis 5-10 mg/Kg BB), dan primaquine (dosis 0,3 mg/KgBB). Chloroquine dapat diberikan melalui air minum dengan dosis 250mg/120 mL.

Demikian tentang “32 Jenis Penyakit Ternak Unggas, Penyebab, Gejala Serangan, Pencegahan dan Cara Pengendaliannya“. Informasi secara detail tentang pengendalian maupun pencegahan masing-masing penyakit akan dibahas pada artikel berikutnya. Semoga bermanfaat….

Sumber:
https://mitalom.com/32-jenis-penyakit-unggas-ayam-cara-pencegahan-dan-pengobatannya-page-1/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!